Postingan

Antara Lifestyle dan Pemberdayaan Karakter

Gambar
Sampai saat ini desusan untuk menggalakkan pendidikan karakter terus berhembus kencang. Upaya ini memang sangat perlu sejalan dengan semakin lunturnya akhlak atau tabiat (karakter), akibat kebiasaan, budaya atau lifestyle   dari generasi muda di era sekarang yang cenderung terdegradatif. Bahkan secara lokal lifestyle ini cenderung mengabaikan tatanan kearifan lokal, norma atau adat istiadat yang mengikatnya semenjak mereka lahir, tumbuh dan berkembang. Terkait dengan kasus kusut ini ada banyak contoh yang bisa kita jumpai. Bahkan kebiasaan seperti ini membuat kita kerutkan kening bahkan jadi bingung; mau pakai cara apa untuk mengatasinya. Salah satunya adalah fenomena sosial yang diulas Drs. Yohanes Bere Aton dalam Rubrik Sorot di Majalah Cakrawala NTT Edisi 63 (edisi 63). Fenomena sosial-budaya ini kini secara perlahan-lahan telah menjadi budaya pesta generasi muda bahkan gerenerasi tua di Kabupaten Belu wilayah Propinsi NTT yaitu Dansa Kijomba. Apa itu dansa Kijomba? Dans...

Tuntutan MEA Bukan Menjadi Manusia Robot

Gambar
Tak terasa geliat dan efek tuntutan MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) perlahan-lahan telah menelanjangi tembok esklusivitas eksistensi suatu Negara. Setiap orang (warga Negara) dengan kecerdasan pengetahuan dan kematangan kepribadiannya mencoba menerobos setiap tawaran di setiap daerah yang menawarkan   susu dan madunya . Pada proses ini dinamika kompetisi pun terbangun. Tak dipungkiri kompetisi ini selain memotivasi orang untuk semakin meningkatkan kualitas dirinya tetapi juga bisa menjerembabkan oleh rasa frustrasi karena kalah bersaing. Hal ini sangat kentara kalau kita menilik lebih dalam pada pasar-pasar ekonomi produktif dalam kanca global. Tuntutan profesionalitas, kecakapan dan keterampilan merupakan syarat mutlak yang harus dipertaruhkan. Sejalan dengan tuntutan ini maka tata ekonomi berencana (planned economic) yang dikembangkan di Negara-negara Eropa Timur termasuk Indonesia memposisikan pendidikan sebagai proses penanaman modal dalam bentuk manusia (human investm...

Generasi Problem Solver

Gambar
Tak dapat kita pungkiri bahwa sederet masalah kekerasan telah mendera hidup bahkan sering menjadi karakter generasi muda kita. Tawuran, perkelahian, saling memfitnah, pengkroyokan, mem bully , pemukulan guru maupun dosen, pembunuhan, demo anarkis, pemerkosaan dan lain-lain sebagainya itulah mental karakter generasi muda yang lazim terjadi. Yang masih berstatus anak sekolah baik di tingkat SD, SMP, SMA juga telah berani melanggengkan kebiasaan dan karakter ini. Apalagi di tingkat perkuliahan lebih doyan memunculkan praktek ini. Yang sangat memprihatinkan kadang dorongan untuk melakukan kekerasan seperti ini atas dasar kemauan dan inisiatif sadar dari mereka sendiri. Bahkan masalah yang sama terulang lagi tanpa ada solusinya. Budaya diskusi mulai diasingkan bak penyakit menahun yang harus dikucilkan. Permasalahan itu akhirnya membentuk karakter generasi kita sebagai generasi penabur masalah daripada sebagai generasi penyelesai masalah, generasi   problem solver.   Apakah set...

Mulailah Dari Diri Kita

Gambar
Setujukah? Kalau hidup kita itu memang perlu didramatisir. Sampai kapan? Tentunya tidak harus larut terlalu dalam kan? Karena semua yang menyisakan jejak-jejak kadang sampai membuat dada kita sesak. Kata   speechless   barangkali sebagai batasan kita untuk mendramatisir sesuatu yang kita lakukan dan itu merupakan satu bentuk rasa yang kita miliki. Karena itu sudah sepantasnya kita harus mulai berbagi walaupun hanya lewat tindakan kecil untuk kita dedikasikan bagi hidup yang tentunya lebih bermakna. Kita harus memulai. Memulai memang butuh kerja cerdas bukan untuk bekerja keras tapi untuk menjadi pekerja keras. Ayo mulailah dari sekarang, kenapa harus menunggu besok. Mulailah dari sini ya dari diri kita, lingkungan terdekat kita, Mari kita mulai daerah, desa, kampung kita.  Mari kita memulai dengan   action locally and think globally.    Untuk apa? Untuk merubah suatu keadaanyang jauh ke depan dan bukan hanya untuk sekarang tapi untuk hari-hari esok yan...

Quo Vadis Wibawa Guru?

Gambar
Adalah   Avanish Yadav. Dialah sosok guru idola di Uttar Pradesh, India. Dia begitu dicintai, tak hanya oleh anak didik dan rekan seprofesi, melainkan juga wali murid dan masyarakat di lingkungan tempat dia mengajar. Dia sosok guru yang baik, menyenangkan, dikagumi, dan dihormati. Sampai-sampai, saat dia harus pindah tugas ke sekolah lain, para murid dan orangtua mereka begitu sedih, hingga tak sanggup menahan air mata. Yadav bergabung di sebuah sekolah dasar di Gori Bazar, Devria pada 2009. Kala itu, dia sangat terkejut melihat jumlah siswa yang hadir di sekolah sangat sedikit. Setelah melakukan penyelidikan kecil-kecilan, Yadav mendapat temuan yang sungguh miris. Menurut laman India Times, sebagian besar penduduk desa tersebut adalah buruh harian. Sehingga, mereka mengajak anak-anak untuk ikut bekerja membantu perekonomian. Yadav pun mencoba untuk membuat perubahan. Dia secara pribadi pergi ke setiap rumah di desa itu dan meyakinkan orang tua tentang pentingnya sekolah dan ...

“Aku Pasti Kembali” (Coretan Pengalaman Pribadi)

Gambar
Mentari pagi telah menampakkan raga yang segar. Kesegarannya mempesona alami membangkitkan naluri-naluri alam untuk bertumbuh. Amazing! Kuncup-kuncup bunga di taman pun tak kalah segarnya memamerkan keindahan. Perpaduan dua fenomena alam ini mengisyaratkan pada dunia pada hidup ini selalu indah jika ada cinta yang saling melengkapi. Aku pun jadinya tersentak. Dari tirai jendela kamarku kutatap cerita alam ini dengan rasa yang mendalam. “Seandainya aku adalah matahari dunia akan selalu membutuhkanku. Tapi layakkah aku menjadi manusia yang berguna bagi banyak orang? Aku kan anak desa tinggal pun di desa terpencil mungkinkah ini terjadi? Mustahil ah…. Pagi itu hanya diam membisu tapi kesegaran matanya memberikan rasa optimis yang besar maka segala sesuatu yang mungkin bisa menjadi mungkin. Dalam diam akupun terseret dalam lamunan. Gemerisik dahan-dahan mangga di atap rumah yang terseret angin pagi tak sedikit pun membuyarkan khayalanku. Di balik jeruji jendela kamar mataku menerawang...

Pendidikan Imajinatif-Kreatif: Sebuah Harapan Praksis Bagi Pendidikan Anak

Gambar
Kira-kira akhir bulan Juli yang lalu saya mendapat sms dari sebuah nomor baru. Dengan sekejap mata saya langsung membaca isi sms itu. “Selamat siang Pak. Saya Lisa. Asal saya dari Jawa Timur. Profesi saya sebagai guru SM3T penempatan di Sumba Timur tepatnya di sebuah kampung yang lumayan jauh dari kota Waingapu, namanya Waijelu. Kami rencananya di akhir bulan Juli 2016 mau menerbitkan sebuah buku. Untuk itu bisa ya kami minta bapak menulis beberapa penggalan kalimat sebagai testimoni dalam buku kami ini?” Membaca sms dengan pesan seperti ini membuat saya jadi penasaran. Dengan segera saya pun membalas. “Siang ibu guru. Terima kasih atas kepercayaan ini. Tapi saya mau tanya buku yang mau dicetak itu berisi apa?”Selang beberapa detik sms balasan pun muncul. “Buku ini berisi kumpulan puisi-puisi siswa-siswi SMAN Waijelu yang diberi judul: “Bintang jatuh di Langit Waijelu”. Tersentak saya kaget sekaligus kagum. Bukan hanya kagum karena dipercayakan untuk menulis testimoni ini tetapi l...