Postingan

Menampilkan postingan dengan label SASTRA

Air Mata Alexa

Gambar
  “Namaku Alexa”. Namun kadang teman-teman memanggilku, Xa. “Aku Alfonsus”. Nama panggilanku, Al. Itulah awal perkenalan kami di penghujung senja itu. Gadis setengah baya. Ya. Alexa namanya. Nama yang keren. Tidak sebatas itu. Seketika nama itu mengingatkanku pada sebuah kisah tua . Kisah tentang sosok masa lampau di belasan tahun yang lalu. Sosok penuh kenangan dalam kisah kebersamaan nan penuh daya. Antara aku, dia dan mereka. Ya. Dia Alexa teman kuliahku yang multi talent itu. Alexa Maria Adrianingsih. Itulah nama lengkap sosok tomboy berperawak imut kelahiran Temanggung. Gadis sosok tomboy itu jago mengutik snar-snar dengan nada-nada reggae. Semakin sempurna jika ia balutkan dengan lantunan suaranya yang khas. Walau berpenampilan keracak, berjiwa pemberontak tapi berhati lembut. Ia adalah satu-satunya gadis yang menjadi pemanis kekasaran pembawaan diri kami. Maklum ia satu-satunya darah Jawa yang mampu mengerti sosok dan karakter anak-anak Timur yang mendapat stigma blak-...

Gadis Pemilik Caffe

Gambar
Ting… tiba-tiba bunyi itu diperdengarkan. Tak lama berselang suara nan ayu menguntitnya sembari menyapa penuh santun. “Kurang beberapa menit lagi kita akan mendarat di Bandara Para Pelancong. Suara itu seketika menyadarkan pulasku. Mataku perlahan-lahan menatap yang ada di sekitarku. Sepertinya semua penumpang dalam situasi yang sama seperti aku. Ya, kaget dari tidur yang memaksa. Sepertinya disengajakan. Ini mungkin strategi tak sadarkan diri agar “tidak merasakan” ayunan dan hentakan body Lion Air yang sering mengoyakkan isi dalam perut. Muntah, mual, pusing itulah efeknya. Bagi mereka yang “masih perdana” mungkin ini salah satu trik praktisnya. Kalau tidak tidur, isap saja permen pesan temanku waktu itu. Ini mitos atau tidak dicobai dan yakinlah pasti ada  manfaatnya. Pandangan mataku  seketika terperosok disisi kiriku. Kulihat gadis setengah baya teman sebangkuku pun tersentak kaget. Mata kami pun beradu pandang sembari mengulas senyum tersipu-sipu. “Hay kak!” Sap...

Wajah-Wajah Pejuang: Sepenggal Kisah dari Ayoutupas

Gambar
Sejenak saya ingat kembali momen ini. Memang sudah lama terurai pergi dari memori ini. Hampir pergi begitu saja ditelan pelbagai rutinitas kantor yang cukup menyita waktu, menguras energi dan pikiran. Tapi apapun rentetan kesibukan hal itu tak mampu menghapus setiap pengalaman yang sudah membekas bahkan terkubur tanpa nama. Saya kembali mengupas memori itu. Membuka kembali satu persatu catatan-catatan tua penuh romantika edukatif yang tergores dalam lembaran-lembaran kusut buku hariannya saya. Memori bersama crew MPC NTT dalam melanggengkan budaya literasi di sekolah-sekolah di pedalaman propinsi NTT. Kali ini memori saya menuntun saya untuk mengkisahkan geliat literasi di salah satu sekolah di kabupaten Timor Tengah Selatan tepatnya di Kecamatan Amanatun Utara. Salah satu kecamatan yang mendedikasikan segala kearifan lokalnya untuk kabupaten yang terkenal dengan keunikan dan kekhasan budaya Suku Botinya. SoE dalam balutan k isah SoE itulah nama ibu kota kabupatennya. Bagi...

"Senandung ini untukmu..."

Gambar
Tak bisa terkatakan  Tentang senandung ini Kurenungkan semuanya dalam diam Kubiarkan jiwa ini memanggilmu melalui kata  Kata tak bersyarat Kata yang berpemilik Sebagai penghibur hatimu dikalah gusar Tak berdaya dalam rasa yang membingungkan Aku hanya kata yang tak punya arti Tapi akan mem-bait menguak rasa Merobek kepingan-kepingan image yang tercecer Memanggilmu kembali untuk bertahan Bahwa kita bukan sekadar ilusi Tapi nyata dalam asa yang sama Teruslah bersenandung Membisikan kata-kata penuh makna Mengikat rasa yang perlahan-lahan menyentuh Pada dinding-dinding keegoan diri Keras, kaku dan terpenjarah Tetaplah bersenandung Dengan kekuatan katamu Biarlah semuanya bersenyawa  Dalam satu nada yang sama Tentang mimpi hari esok  Yang sudah tertata dalam keabadian jiwa (EL)

MENGULAS KESAL, MENGUAK PENGHARAPAN UNTUK OEVETNAI (Sekelumit Catatan Pribadi tentang Kisah Penolakan PG-PAN di Oevetnai)

Gambar
KESAL. Sebuah kata yang menggambarkan situasi dan kondisi waktu itu di hari Minggu tanggal 12 Maret 2017. Jam waktu itu menunjukkan pukul 04.30 WITA. Masih dinihari. Dalam kegalauan rasa kumenatap keluar lewat pintu sempit dari ruangan berukuran 3x4 tempat kami menumpang dan membaringkan raga. Kami hanya menumpang untuk mengamankan diri, bukan diamankan. Karena malam itu kamilah yang punya inisiatif untuk mengamankan diri. Inisiatif ini kami harus ambil karena waktu itu kami dalam posisi tidak nyaman dengan teror yang sudah disetting sedemikian rupa. Seperti itulah pemikiran kami waktu itu. Ada kesengajaan cara yang coba dimanfaatkan untuk mengusir secara halus keberadaan kami yang waktu itu dianggap sebagai gerakan yang “sangat mengancam”. Sebagai tamu yang adalah orang-orang baru berhadapan dengan situasi itu kami pun jadi dilema.   Lalu di mana inisiatif mereka yang katanya penjaga keamanan dan keselamatan masyarakat? Ah, semuanya berbalut dalam kata tanya mengapa dan ke...

“Aku Pasti Kembali” (Coretan Pengalaman Pribadi)

Gambar
Mentari pagi telah menampakkan raga yang segar. Kesegarannya mempesona alami membangkitkan naluri-naluri alam untuk bertumbuh. Amazing! Kuncup-kuncup bunga di taman pun tak kalah segarnya memamerkan keindahan. Perpaduan dua fenomena alam ini mengisyaratkan pada dunia pada hidup ini selalu indah jika ada cinta yang saling melengkapi. Aku pun jadinya tersentak. Dari tirai jendela kamarku kutatap cerita alam ini dengan rasa yang mendalam. “Seandainya aku adalah matahari dunia akan selalu membutuhkanku. Tapi layakkah aku menjadi manusia yang berguna bagi banyak orang? Aku kan anak desa tinggal pun di desa terpencil mungkinkah ini terjadi? Mustahil ah…. Pagi itu hanya diam membisu tapi kesegaran matanya memberikan rasa optimis yang besar maka segala sesuatu yang mungkin bisa menjadi mungkin. Dalam diam akupun terseret dalam lamunan. Gemerisik dahan-dahan mangga di atap rumah yang terseret angin pagi tak sedikit pun membuyarkan khayalanku. Di balik jeruji jendela kamar mataku menerawang...

Ini Aku Bukan Kamu

Gambar
Inilah duniaku Bukan duniamu Inilah kisahku Bukan kisahmu Aku dan kamu berbeda Engkau selalu tertawa Aku hanya meneteskan air mata Perih dan perih menumpuk Menggerogoti dinding-dinding raga Mencampakkan mimpi-mimpiku Gelap, tak terarah Membuatku tersungkur Jatuh dan jatuh lagi Engkau di mana? Menatapku dengan tawa? Menangisku dengan pilu? Ah…..munafik Aku tak butuh Walau perih ini milikku Walau sakit ini takdirku Aku tak pernah kalah Aku tak pernah lelah Aku hanya butuh waktu Tuk memenangkan pergolakan ini Karena ini aku bukan kamu Kita beda (EL)